
CATATAN MAPARA 1446 H
Hari pertama
“Ethos of Ramadan”
By Rukiyati, Sleman.
Sungguh bahagia rasanya hati karena Matahari Pagi Ramadan tahun ini datang lagi di ruang zoom IRo Society.
Pagi pertama ini acara Mapara dipandu oleh Ibu Dr. Dyah Lyesmaya dari Sukabumi. Diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Mas Kone Abdoulaye Assamaha, mahasiswa yang berasal dari Negeri Pantai Gading, Afrika dan berkuliyah di Universitas Nusa Putra, Sukabumi.
Acara inti adalah tausiyah yang disampaikan oleh Prof. Imam Robandi.
Mapara tahun ini istimewa karena narasumbernya adalah tiga puluh guru besar se Indonesia.
Prof. Imam sangat mengapresiasi kerja keras bu dokter Izzuki dan tim yang sudah bekerja keras untuk kesuksesan acara Mapara.
Tiga puluh flyer yang keren sudah disiapkan oleh bu dr. Izzuki Muhashonah.
Topik hari ini adalah Ethos of Ramadan.
Bagi orang beriman, tiga puluh hari adalah pendek sekali tetapi bagi orang malas tiga puluh adalah sangat lama. Mapara adalah ikhtiar kita di bulan Ramadhan dalam rangka la’alakum tattaqun. Esensi orang berpuasa sudah dipegang untuk orang dewasa. Kalau masih ngintip-ngintip makanan berarti masih Kodomo alias di bawah 12 tahun, kata orang Jepang. Islam adalah luar biasa karena setiap tahun kita recovery, trigger lagi. Ini tidak mudah.Kira-kira saya akan sampai dimana? Sebulan terasa cepat bagi orang yang tulus, tidak menghitung hari.
Tidak mudah bangun pagi tiba-tiba ada kegiatan mengaji, menambah ilmu.
Ilmu adalah penambah semangat untuk berkembang. Satu orang memberi sesuatu adalah hebat apalagi tiga puluh orang. Syukur kalau ada yang mau mencatat untuk dijadikan buku dengan versi masing-masing.
Bulan puasa kita belajar apa saja dan sebaiknya ditulis supaya ada bekas, ada yang dapat kita pelajari. Mari kita isi dengan kegiatan bermanfaat. Mari kita buat habit, misalnya membaca Al Qur’an. Yang sudah lancar maupun yang baru belajar.
Mapara adalah dakwah horizontal yang banyak manfaat untuk meningkatkan kualitas diri. Kunci orang muslim adalah tepat waktu. Satu kali berapa ayat? Tertibkan dengan niat peningkatan diri. Dengan demikian setiap tahun kita punya harapan untuk memajukan diri sendiri. Bacalah Al Qur’an, dengannya minimal lidah kita tersentuh ayat-ayat Al Qur’an. Pembiasaan diri adalah penting, contohnya, seorang anak dibiasakan memasuki kamar mandi dengan menghidupkan lampu dan keluar dari kamar mandi dengan otomatis mematikan lampu. Walaupun listrik padam, dia akan terus melakukan pencet tombol mematikan lampu karena sudah menjadi habit. Disiplin walaupun listrik padam.
Contoh lainnya, orang gila di Jepang menabrak orang lain meminta maaf karena sudah menjadi habitnya.
Kemampuan individu di IRo Society meningkat tajam. Ini adalah contoh yang baik. Salah satu contoh baik adalah flyer yang dibuat dokter Izzuki semakin keren dibandingkan empat tahun lalu. Mari kita manfaatkan waktu sebaik mungkin, minimal bersilaturahim. Teman kita muncul di layar saja kita sudah senang, ada harapan teman kita sehat-sehat. Selayaknya kita punya harapan-harapan yang banyak di bulan yang mulia ini.
Sebagai Closing statement, Prof. Imam Robandi menegaskan bahwa mengendalikan waktu tidak mudah. Orang yang menyia-nyiakan waktu akan menangis karena tidak dapat mengejar waktu. Orang beriman adalah orang yang pandai mengisi waktu. Kone adalah mahasiswa istimewa karena datang ke Sukabumi hanya berdasar informasi dari google. Kone bukan sembarang pemuda. Dia akan menjadi bintang. Secara brand, dia kuat banget.
Ngemplak, 1 Ramadan 1446 H


2 responses to “CATATAN MAPARA 1446 H”
Good https://is.gd/N1ikS2
Thank you so much.