Rukiyati, Sleman, Ahad, 22 Juni 2025.
Saya terlambat memasuki ruang zoom KSJM ke-277 Jumat malam, 20 Juni 2025. Ada rapat pembubaran panitia Idul Adha yang mengharuskan saya datang dan tidak dapat on time mengikuti zoom kesayangan KSJM yang tayang setiap Jumat malam di bawah asuhan founder Iro Society, Prof. Imam Robandi.
Topik KSJM kali ini adalah Merasakan Kehidupan Masyarakat Chicago, New York, Washington DC, dan Boston. Moderator yang bertugas malam itu adalah Ustad Turrachman, seorang IRotizen yang selalu full-senyum dan menjabat kepala sekolah SMP Muhammadiyah 2, Adiwerna, Tegal. Saya menyimak di depan laptop pemaparan narasumber, Prof. Dr. Ir. Budisantoso Wirjodirdjo, M.Eng., guru besar dari ITS yang sangat mumpuni di bidangnya dan telah beberapa kali menjadi invited speaker KSJM. Prof. Budi yang kalem dan halus tutur katanya menayangkan banyak foto perjalanan beliau ke Amerika Serikat. Sambil menayangkan foto-foto yang indah, beliau bercerita suasana dan keindahan tempat-tempat yang dikunjungi. Beliau berada kampus-kampus hebat seperti John Hopkins University, Harvard University juga museum-museum dan perpustakaan kampus, kota Boston, Washington DC, dan juga pedesaan di Virginia. Tidak lupa Prof. Budi juga menyajikan foto bunga sakura yang sedang mekar (cherry blossom) di Boston. Dulu bibitnya dibawa dari Jepang sebagai pemberian dari Kerajaan Jepang kepada negara Amerika Serikat pada tahun 1912 (kalau tidak salah dengar). Prof. Budi berkunjung ke Amerika bersama isteri. Putranya berkuliyah di John Hopkins University.
Pemandangan kampus-kampus dengan halaman yang luas dan pepohonan hijau terawat menyejukkan mata peserta zoom KSJM, apalagi Prof. Budi yang langsung datang ke sana untuk menikmatinya. Namun, kata Prof. Budi, tidak semua tempat di Amerika bersih dan rapi. Di stasiun kereta bawah tanah di New York, metropolitannya Amerika Serikat justru terkesan kotor dan berbau tidak sedap.
Kata Prof. Budi, banyak orang yang masuk ke kampus Universitas Harvard dan sejenak singgah di depan patung Pak Harvard sambil mengusap ujung sepatunya. Katanya, semasa hidupnya Pak Harvard yang dermawan selalu mengusap ujung sepatunya yang sebelah kiri ketika sedang duduk. Itulah sebabnya para pengunjung yang datang meniru apa yang dilakukan Pak Harvard. Mungkin sebagai tanda hormat kepada beliau.
Saya penasaran mengapa nama Pak Harvard diabadikan menjadi nama universitas Harvard, maka saya mencari informasi melalui Copilot dan inilah jawabannya. Nama John Harvard diabadikan karena ia adalah donatur besar pertama bagi universitas yang kemudian diberi namanya. Meskipun bukan pendiri langsung, jasanya sangat penting. Pada tahun 1638, ia menyumbangkan setengah dari hartanya sebesar £779 dan sekitar 400 buku dari perpustakaannya kepada sebuah sekolah baru di koloni Massachusetts. Jika dikonversi ke nilai uang saat ini, jumlah tersebut setara dengan lebih dari 2 juta dolar AS dan belum termasuk nilai koleksi buku-bukunya yang langka dan mahal. Jadi, bisa dibilang, sumbangan John Harvard bukan hanya besar secara nominal, tapi juga sangat strategis: ia memberikan sumber daya intelektual dan finansial yang menjadi fondasi awal universitas tersebut.
Sebenarnya, menurut Copilot, cerita Pak Harvard sering mengusap ujung sepatunya cuma mitos yang berkembang di sekitar patung John Harvard di Harvard University. Tidak ada bukti bahwa John Harvard—yang wafat pada tahun 1638—pernah mempunyai kebiasaan mengusap ujung sepatu kirinya. Bahkan, patung yang terkenal itu pun bukan representasi akurat dirinya. Saat dibuat pada abad ke-19, tidak ada potret asli John Harvard, jadi wajah patungnya menggunakan model mahasiswa bernama Sherman Hoar.
Tradisi mengusap ujung sepatu kiri patung ini justru muncul dari para pemandu wisata sekitar tahun 1990-an. Mereka menyebarkan cerita bahwa menyentuh sepatu kiri patung akan membawa keberuntungan. Sejak itu, ribuan turis dan mahasiswa menyentuhnya setiap tahun, hingga bagian sepatu itu tampak mengilap keemasan karena aus. Jadi, mengusap sepatu bukan kebiasaan Pak Harvard, melainkan kebiasaan pengunjung yang mungkin sebagai penghormatan atas jasa John Harvard.
KSJM ke-277 diakhiri dengan konklusi yang disampaikan oleh Arik Purwaningsih, IRotizen senior sekaligus kepala sekolah yang berprestasi dari Klaten. Jam menunjukkan pukul 21.30, saya pun pamit dari ruang zoom. Semoga bertemu lagi di KSJM ke-279.


4 responses to “UJUNG SEPATU PAK HARVARD”
Tulisan yang keren, Bu Ruki. Terima kasih telah berbagi tulisan yang informatif dan inspiratif.
Terima kasih apresiasinya, Madame Marleen.
Wah, serasa ksjm 278 live
Matur nuwun Bunda Ruki dear
Dengan senang hati, bu dokter.