rukiyatilink.com

Media berekspresi dan berbagi

CATATAN PERJALANAN


Anak Indonesia di Negeri Jiran

rukiyatilink.com. 6 Juli 2024

By Rukiyati

Hari masih pagi sekitar pukul 07.00 waktu setempat ketika rombongan kami berangkat dari Eduhotel, Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) menuju Kundasang, Sabah, Malaysia. Hari itu adalah Rabu, Rabu, 13 Juni 2024. Tujuan kami adalah Community Learning Center (CLC) yang ada di Kundasang, Sabah, Malaysia. Kami bertujuh: Siti Irene AD, Mami Hajaroh, Andriani, Shely Cathrin, Riana Nurhayati, Wulan Tri Puji Utami, Rukiyati, dan dipandu seorang guru SIKK, Pak Nugroho.  

Perjalanan pagi yang mengasyikkan. Pemandangan hutan di kanan kiri jalan. Langit cerah dengan sekumpulan awan menambah keindahan angkasa. Matahari mulai meninggi seiring mobil yang melaju kencang. Jalanan mulus dengan banyak kelok sehingga membuat mabuk penumpang yang tidak terbiasa bepergian jauh. Rumah penduduk umumnya berada di kampung-kampung yang sepi di pedalaman. Hanya ada penanda nama kampung di sepanjang jalan. Juga selang beberapa ratus meter selalu ada papan nama gereja Katolik dengan nama yang berbeda-beda. Mungkin satu gereja untuk satu kampung kecil semacam lingkungan RT jika di Indonesia.

Kami adalah tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta yang merancang empat kegiatan di SIKK dan CLC selama satu pekan dengan sasaran yang berbeda. Ada yang melakukan PkM untuk guru, ada pula yang untuk siswa SIKK. Hanya saja untuk CLC kami melakukan bersama-sama. Sebenarnya, kegiatan di CLC bukan direncanakan sejak awal tetapi berdasarkan hasil perbincangan dengan teman-teman guru di SIKK. Setelah mendengarkan cerita guru, kami tertarik untuk mengunjungi salah satu CLC yang lumayan jauh dari kota Kinabalu. Letaknya di Kundasang, Sabah, Malaysia sekitar 2,5 jam perjalanan dari KK (sebutan orang Malaysia untuk Kota Kinabalu).

Satu jam perjalanan kami berhenti sejenah di Belod, sebuah desa yang dijadikan semacam rest area untuk para pelancong yang akan menikmati pemandangan dengan latar belakang Gunung Kinabalu, sebuah gunung tertinggi di Asia Tenggara dengan tinggi 4009 mdpl. Belod cukup ramai dengan wisatawan yang mampir sejenak sebelum ke destinasi wisata lainnya. Banyak orang berjualan berbagai kebutuhan makan minum dan oleh-oleh. Kami pun turun dari mobil dan menuju tempat berfoto dengan berbagai gaya ala-ala selegram di media sosial. Maklumlah, sebagian dari kami adalah orang-orang muda yang cantik dan pandai bergaya. Yang tua-tua juga tidak mau kalah. Begitulah, rasanya perjalanan tanpa bukti foto-foto adalah hoaks.

Akhirnya, sampailah kami di Kundasang, sebuah desa yang berbukit-bukit indah. Bukit-bukit tersebut umumnya ditanami sayur-mayur, mengingatkan saya akan bukit-bukit kentang dan wortel di Wonosobo. Kami turun dari mobil dan berjalan menuruni jalan setapak menuju lembah, hanya sekitar 300 meter, tidak seperti Ninja Hatori yang harus menuruni Lembah dan menyeberangi sungai. Namun, hati kami merasa sangat sedih. Di depan mata tampaklah pemandangan sebuah bangunan sekolah yang mirip rumah bedeng para pekerja bangunan di proyek-proyek di Indonesia. Bangunan berdinding papan dan beratap seng yang terlihat kurang rapi. Itulah sekolah anak-anak Indonesia yang dilahirkan dan dibesarkan di Sabah karena orang tuanya adalah Pekerja Migran Indonesia (PMI). Anak-anak itu tidak mempunyai dokumen kewarganegaraan karena dilahirkan di negeri orang.

Kami diterima oleh kepala CLC, bapak Gatot yang berasal dari Jambi. Hari itu ada pertemuan orang tua siswa dalam rangka pembagian rapor siswa. Kami tidak masuk ke kelas pertemuan itu, tetapi langsung bertemu dan menyapa anak-anak di kelas sebelahnya. Mereka telah duduk di lantai semen kasar beralaskan karung plastic yang dijejer memenuhi ruangan. Kami berkomunikasi dengan anak-anak, berkenalan dan bertanya asal mereka. Pada umumnya anak-anak itu berasal dari Nusa Tenggara Timur dan sedikit dari Sulawesi Selatan. Ada yang dari Flores, Bajawa, Manggarai dan sekitarnya. Ada sekitar 100 anak di ruang kelas tersebut yang tampak senang, gembira menyambut kedatangan kami.

Kami bernyanyi bersama lagu Indonesia Raya, dan Garuda Pancasila. Setelah itu, kami mengadakan kuis. Siswa yang dapat menjawab diberi hadiah gantungan kunci yang sengaja kami bawa dari Jogja. Anak-anak antusias menjawab pertanyaan tim pengabdi. Mereka hafal Pancasila. Mereka dapat menjawab nama ibu kota Indonesia. Mereka juga mengenal nama-nama beberapa pulau di Indonesia. Hanya saja, ketika ditanya jumlah penduduk Indonesia, tidak ada yang dapat menjawab dengan benar. Ada yang menjawab tiga puluh ribu, seratus ribu. Tidak ada yang menjawab dalam bilangan jutaan. Ketika diberitahu jumlah penduduk Indonesia adalah 278 juta jiwa, mereka terkejut dengan ekspresif wajah heran mengatakan, “haaah?”

Setelah kuis selesai, kami ajak anak-anak bermain di lapangan sekolah. Kami membagi anak-anak menjadi enam kelompok dan meminta masing-masing kelompok membuat yel-yel semangat. Kami mengadakan permainan kerja sama yang dilombakan antar kelompok, yaitu permainan Rantai Bahagia dan Birthday Line. Permainan-permainan tersebut sering kami adakan dulu ketika masih bergiat di Wahana Studi Pengembangan Kreativitas (WSPK) UNY untuk melatih guru-guru dan para karyawan perusahaan dalam rangka capacity building. Anak-anak sangat antusias  dan gembira ria ketika bermain. Padahal sejatinya problem hidup mereka cukup besar di negeri orang karena tidak mempunyai status yang jelas sebagai warga negara, bersekolah dengan fasilitas ala kadarnya, dan masih harus membantu orang tuanya bekerja di ladang atau perkebunan sawit.

Setelah permainan di luar selesai, anak-anak semua masuk ke kelas lagi untuk mendapat gantungan kunci, minuman gelas, dan wafer coklat yang sudah kami siapkan dengan membeli di warung CLC. Anak-anak sangat gembira dan berbaris sambil keluar untuk pulang setelah berpamitan. Di luar kami menemui beberapa orang tua untuk sekedar mengobrol ringan menanyakan hasil belajar satu semester anak-anak mereka.

Khusus di CLC Kundasang, hanya ada tiga orang guru yang mengajar siswa kelas 1 – 6. Ruang kelas hanya ada tiga. Mereka masuk kelas bergabung dalam kelas rendah (1-3)  di satu ruang, dan kelas tinggi (4-6) di ruang yang lain. Pelajaran disesuaikan dengan masing-masing anak.  Guru-guru ada yang berasal dan dibiayai oleh pemerintah Indonesia dengan status guru kontrak untuk waktu dua tahun, guru-guru yang direkrut dan digaji oleh perusahaan sawit, dan ada juga gaji guru yang ditanggung oleh orang tua siswa. Intinya, mereka bergotong royong agar pendidikan tingkat sekolah dasar untuk anak-anak PMI ini dapat terlaksana. Jika mereka sudah tamat SD, mereka dapat melanjutkan ke jenjang SMP melalui program Kejar Paket yang juga diselenggarakan bersama oleh CLC dan SIKK. Hanya sedikit siswa yang bersekolah di SIKK, Kinabalu karena sarana dan prasarana sekolah belum mencukupi.

Di Sabah ada sekitar 17.000 siswa  yang menyebar pada beberapa CLC.  Anak-anak yang lulus jenjang SMP diberi beasiswa oleh pemerintah Indonesia untuk bersekolah jenjang SMA/SMK di kota-kota di Indonesia seperti Yogyakarta, Makassar, Malang dan sebagainya. Demikian pula, Ketika telah menamatkan jenjang Pendidikan menengah, anak-anak tersebut juga mempunyai kesempatan memperoleh beasiswa afirmasi ADIK untuk berkuliah di universitas negeri maupun swasta di Indonesia. Dengan bekal pendidikan yang cukup, diharapkan anak-anak PMI ini akan bertinggal dan bekerja di Indonesia dengan menyandang status kewarganegaraan yang jelas, dan tidak akan kembali lagi ke Malaysia.

Akhirnya, saya dan rombongan pulang dengan perasaan campur aduk, rasa sedih, ingin menangis tetapi  ditahan-tahan melihat anak-anak Indonesia yang dilahirkan dan dibesarkan di negeri Sabah dengan status tidak jelas karena orang tuanya menjadi pekerja migran. Saya hanya dapat berdoa semoga suatu saat nanti mereka akan kembali ke kampung halaman  dengan bekal ilmu dan keterampilan untuk dapat hidup layak di Indonesia.

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
👋 Hi, how can I help?